|
Written by Administrator
|
|
Jarak antara Papua dan Bandung mungkin beribu-ribu kilo meter. Namun, lewat Diklat KTSP dan Uji Sertifikasi Guru, semua seakan menjadi dekat. Kehangatan dan keakraban pun terjalin di sela-sela materi diklat. Tidak seperti diklat-diklat yang biasa digelar oleh Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Pendidikan Taman Kanak-kanak dan Pendidikan Luar Biasa (PPPPTK TK dan PLB). Kali ini Diklat Uji Kompetensi/ Serifikasi Guru ini berbeda. Apa yang membuatnya berbeda? Apalagi kalau bukan pesertanya yang berasal dari Fak-fak, salah satu Kabupaten di Papua Barat, Provinsi paling timur dari Indonesia. Diklat yang berlangsung selama 6 hari (31 Juli - 6 Agustus) ini diprakarsai Divisi PPM (Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat) PPPPTK TK dan PLB. Sebanyak 17 peserta yang merupakan guru dari berbagai sekolah dasar, menengah dan kejuruan ikut serta dalam kegiatan ini. Ditambah dua orang supervisor yang salah satunya adalah Kepala Subdin Pendidikan Menengah Dinas Pendidikan Kabupaten Fakfak. Ikhwal diadakannya program diklat untuk guru-guru Fakfak ini diawali dari promosi personal yang dilakukan oleh kalangan lembaga PPPPTK TK dan PLB sendiri. Promosi adanya program diklat di lembaga ini rupanya menarik minat pihak Dinas Pendidikan Kabupaten Fakfak untuk mengirimkan guru-guru ke Bandung, terang Kepala Divisi PPM PPPPTK TK dan PLB, Drs. Agus Mulyadi, M.Pd. Sedangkan untuk materi diklat, peserta diajak untuk memahami mengenai KTSP dan Sertifikasi Guru, diantaranya mengenai PAKEM (Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif dan Menyenangkan), Penyusunan Silabus dan RPP, Evaluasi Pendidikan dan juga Internet. Materi merupakan request dari Dinas Pendidikan Kabupaten Fak-fak sendiri, tambahnya. Bukan hanya diklat yang penuh materi saja yang dihidangkan oleh PPPPTK TK dan PLB. Acara games outdbond menjadi hiburan sendiri di tengah-tengah jenuhnya mengikuti diklat. Bahkan, panitia sengaja menyiapkan waktu untuk melakukan kunjungan ke seklolah-sekolah di Bandung serta jalan-jalan ke Jakarta. Peserta masih banyak yang belum melihat Jakarta. Jadi kita jalan-jalan ke sana, ujar Bapak Agus. Pengalaman pertama mendatangkan peserta diklat untuk menginap di asrama yang baru dibangun di PPPPTK TK dan PLB, tidak menjadikan lembaga ini kecil hati dan tidak percaya diri. Terbukti, peserta diklat umumnya merasa puas akan penyajian materi, pelayanan asrama dan konsumsi, serta yang paling utama, keramahan yang ditunjukkan jajaran PPPPTK TK dan PLB dari mulai satpam, staf, baik panitia maupun pegawai umumnya, sampai para narasumbernya. Kami disambut dengan ramah, dengan penuh perhatian. Sikap orang Priangan yang selama ini hanya saya tahu dari buku, lebih nyata tentang keramahan, senyuman yang disertakan pada setiap tegur sapa. Pemateri sangat baik dalam penguasaan materi dengan penyampaian santai tapi mengena pada sasaran,ujar salah satu peserta lewat tulisan kesan dan pesannya pada panitia. Penyelenggaraan program ini diharapkan menjadi pengalaman berharga terutama bagi lembaga yang mendapat tugas baru melaksanakan diklat tatap muka. Hal-hal yang kurang tentunya akan dibenahi dan yang baik tentu akan semakin ditingkatkan. (adhi/rina)
|
|
Written by Administrator
|
Louis Braille dilahirkan di desa Coupvray 40 Km dari kota Paris. Pada usia 3 tahun Louise Braille menjadi tuna netra karena matanya terkena pisau dan menjadi rusak akibat infeksi. Tahun 1819 ketika berusia 10 tahun Louise Braille mulai bersekolah pada L'eecle des Yeunes Avengles di kota Paris, yaitu sekolah tuna netra pertama yang didirikan oleh Valentine Hauy tahun 1784. uise Braille tergolong anak yang cerdas serta memiliki kemauan yang keras. Setelah tamat sekolah ia bekerja pada sekolah tersebut sebagai guru (repetitor). Pada saat itu tulisan yang digunakan adalah tulisan latin yang dicetak timbul (relief). Sezaman dengan kehidupan Louise Braille, seorang opsir tentara berkuda Perancis yang bernama Charles Barier menciptakan tulisan titik-titik timbul yang dapat dibaca dengan cara diraba. Sistem tulisan ini terdiri atas 12 buah titik. Louise Braille sangat tertarik kemudian menyimpulkannya bahwa tulisan sistem titik timbul lebih baik daripada tulisan relief latin. Kemudian beliau menyusun kembali sistem tulisan ini menjadi 6 titik saja yang kemudian dikenal sebagai tulisan Braille. Ia ciptakan sistem tulisan itu untuk keperluan bahasa, berhitung, dan musik. Ia juga menciptakan alat tulisnya yang diberi nama reglette. Pada tahun 1836 sistem tulisan Braille sudah lengkap dan sejak itu perjuangan Louise Braille diarahkan untuk memperkenalkan sistem tulisan Braille untuk dapat dipergunakan secara luas dan umum sebagai tulisan resmi orang-orang tuna netra. Pada tahun 1860 dalam suatu konres internasional, tulisan Braille diterima sebagai tulisan resmi bagi sekolah tunanetra diseluruh Eropa Barat. Pada tahun 1852 Louise Braille wafat, untuk mengenang jasa-jasa Louise Braille maka di desa kelahirannya, Coupvray, didirikan Monumen Louise Braille dan setiap tanggal 4 Januari diperingati sebagai hari Braille di seluruh dunia. Perkembangan Tulisan Braille di Indonesia Tulisan Braille mulai dipergunakan di Indonesia tahun 1901 ketika Dr. Westhoff mendirikan sekolah Blinden Instituut di Bandung. Setelah pemerintah mendirikan SGPLB di Bandung tahun 1952, perkembangan pendidikan bagi anak tuna netra meningkat dengan pesat dan pada tahun 1972 seiring dengan diberlakukannya Ejaan Bahasa Indonesia Yang Disempurnakan (EYD), maka tulisan Braille pun menyesuaikan dengan EYD tersebut dan sekaligus disusun sistem Tulisan Singkat Braille Indonesia. Pada tahun 1974 Pedoman penulisan Braille menurut EYD dibakukan. Pada tahun 1999 diterbitkan buku Pedoman Penulisan Braille Indonesia yang telah disempurnakan tersebut yang isinya mencakup seluruh lambang-lambang dalam bidang Bahasa, Matematika, IPA, Kimia, Musik dan Arab. (Sumber: Resource Centre-Braille Books Produktion)
|
|
|
Autis dan Tuna Grahita, Beda! |
|
|
|
|
Written by Administrator
|
|
Hati-hati memberikan layanan pendidikan terhadap anak-anak yang sulit berkomunikasi, keliru pendekatan dan terapi sangat beresiko menghambat perkembangan intelegensia anak. Tidak selamanya anak-anak yang sulit berkomunikasi itu adalah anak tuna grahita. Bisa jadi anak yang bergejala demikian tergolong autisme. Antara autisme dan tuna grahita terdapat perbedaan mendasar sehingga perlakuan yang diberikan pun harus berbeda. Menurut Eko Djatmiko Sukarso, Direktur Pembinaan SLB Depdiknas, Autisme adalah anak yang mengalami gangguan berkomunikasi dan berinteraksi sosial serta mengalami gangguan sensoris, pola bermain, dan emosi. Penyebabnya karena antar jaringan dan fungsi otak tidak sinkron, ada yang maju pesat sedangkan yang lainnya biasa-biasa saja.Survey menunjukkan anak-anak autisme lahir dari ibu-ibu kalangan ekonomi menengah ke atas. Adapun tuna grahita adalah anak yang mengalami hambatan dan keterbelakangan mental, jauh di bawah rata-rata. Gejalanya tak hanya sulit berkomunikasi, tetapi juga sulit mengerjakan tugas-tugas akademik. Ini karena perkembangan otak dan fungsi syarafnya tidak sempurna. Anak-anak seperti ini lahir dari ibu kalangan ekonomi menengah ke bawah. Sepintas, anak-anak autis dan tunagrahita memang sama-sama sulit berkomunikasi, tetapi dalam perkembangannya, pada situasi tertentu anak-anak autis bisa lebih cerdas membahasakan sesuatu. Autisme hanyalah satu dari delapan jenis kelainan gejala khusus yang menjadi sasaran layanan pendidikan khusus yang kini dikembangkan oleh pemerintah dan masyarakat. Jenis-jenis kelainan lainnya mencakup tuna netra (gangguan penglihatan), tuna daksa (kelainan pada alat gerak/tulang, sendi, dan otot), tuna grahita (keterbelakangan mental), dan tuna laras (bertingkah laku aneh). Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, saat ini sekitar 1,5 juta anak di Indonesia yang mengalami kelainan seperti itu. Namun, karena terbatasnya sarana pendidikan luar biasa, baru kurang lebih 50. 000 anak mengenyam pendidikan. Sesuai Deklarasi Salamanca 1994 dan UU Sisdiknas, anak berkebutuhan khusus harus mendapatkan pendidikan setara dengan anak-anak lainnya. (Disadur dari: Spirit Edisi 8 Tahun I, Desember 2006)
|
|
Written by Administrator
|
PPPPTK TK dan PLB terletak di Jl. Dr. Cipto No 9, lokasinya sangat mudah dicari. Beberapa spot yang ada di dekat PPPPTK TK dan PLB adalah: -Hotel Imperium (terletak di sebelah PPPPTK TK dan PLB) -Istana Plaza (terletak kurang lebih 500 m sebelah barat PPPPTK TK dan PLB) -GOR Pajajaran (terletakkurang lebih 500 m di sebelah selatan PPPPTK dan PLB) -RSUD Hasan Sadikin (Terletak kurang lebih 2 Km di sebelah utara PPPPTK dan PLB)
|
|
Read more...
|
|